Pengertian Depresiasi dan Bagaimana Cara Menghitungnya

Berbagai jenis biaya dikeluarkan oleh suatu perusahaan atau pelaku bisnis. Salah satu contoh biaya yang dikeluarkan yaitu depresiasi atau biaya penyusutan. Depresiasi termasuk biaya yang tidak dapat dihindari dan dikeluarkan pada setiap aset tetap sebuah bisnis contohnya seperti bangunan, mesin, transportasi, dll. Oleh karena itu, kamu akan selalu menemukan penurunan nilai dalam laporan keuangan tahunan untuk setiap periode tertentu.

Kamu Ingin mengetahui lebih lanjut tentang apa itu depresiasi, rumusnya, dan bagaimana cara menghitung depresiasi? Langsung simak aja yuk pembahasannya berikut ini

Memahami apa itu Depresiasi

Apa itu Depresiasi

Depresiasi adalah biaya yang timbul karena adanya penggunaan aset tetap yang dimiliki oleh sebuah perusahaan. Biaya depresiasi menjadi biaya yang ada atau muncul karena adanya penggunaan aset tetap yang dipakai secara terus menerus sehingga penurunan atau penyusutan manfaat serta kualitasnya. Contoh beberapa aset tetap (fixed asset) adalah Gedung bangunan, pabrik, alat-alat mesin produksi, alat transportasi.

Pengertian depresiasi menurut akuntansi ialah suatu penyusutan yang memiliki pengaruh terhadap nilai dari suatu aset perusahaan, terutama pada aset tetap perusahaan itu sendiri. Jika penurunan nilai aset tetap semakin banyak, maka harga jual aset juga ikut menurun.

Baca Juga:
Aset adalah: Pengertian, Jenis, dan Manfaatnya
Pengertian Laporan Keuangan, Contoh, Dan Fungsinya Untuk Bisnis

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Depresiasi

Ternyata ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan adanya depresiasi pada suatu perusahaan ataupun pelaku bisnis diantaranya seperti:

1. Harga perolehan atau Acquisition Cost

Biaya perolehan dapat dikatakan sebagai harga dasar perhitungan terhadap besar atau kecilnya depresiasi yang dialokasikan untuk suatu periode tertentu. Acquisition cost merupakan faktor utama untuk menentukan banyaknya nilai penyusutan dari aset tetap.

Adapun biaya yang termasuk dalam acquisition cost contohnya seperti harga pembelian suatu aset perusahaan, pengadaan alat transportasi, biaya pengiriman aset dan lainnya.

2. Perkiraan umur ekonomis atau Estimate Economical Lifetime of Asset

Setelah kita mengetahui tentang faktor pertama yaitu biaya perolehan, maka ada juga faktor lain dari depresiasi yang perlu diperhatikan misalnya saja faktor estimasi umur ekonomis aktiva/ aset tetap.

Faktor ini ternyata juga mempengaruhi sebuah penyusutan. Faktor perkiraan umur ekonomis dapat diukur dengan adanya perkiraan terhadap berapa lama sebuah aset dapat digunakan untuk operasional produksi sebuah perusahaan.

Kita perlu mengetahui dalam jangka waktu berapa lama suatu aset dapat digunakan dan akan mengalami penurunan kualitas produksi.

Nilai penyusutan atau depresiasi yang lebih kecil akan mempunyai masa ekonomis yang lebih lama, dan sebaliknya. Jika nilai penyusutan lebih besar maka akan dikategorikan ke aset yang umur ekonomisnya singkat.

Kita perlu mengetahui pentingnya estimasi umur aset lebih awal, supaya bisa menentukan depresiasi atau penyusutannya dari setiap aset tetap yang ada.

3. Perkiraan nilai residu atau Estimated Residual Value of Asset

Faktor ketiga dari depresiasi yaitu perkiraan nilai residu aset. Nilai residu adalah nilai yang dapat direalisasikan saat dimana suatu aset dijual atau tidak dipergunakan kembali.

Selain itu, nilai residu juga diperoleh dari adanya nilai sisa hasil sebuah aset yang dihasilkan dari hasil penjualan, hasil sewa ataupun diputarkan sesuai cara pemeliharaan kebijakan bisnis. Namun, jika suatu aset tetap tidak digunakan kembali karena tidak lagi menghasilkan manfaat atau keuntungan, maka nilai residu dari suatu aset tersebut tidak akan tinggi.

Metode dan Rumus Perhitungan Depresiasi

Untuk mengetahui nilai penyusutan ataupun depresiasi ada beberapa metode dan rumus yang digunakan. Langsung simak yuk informasinya berikut ini

1. Metode garis lurus

Metode perhitungan depresiasi pertama menggunakan metode garis lurus. Metode garis lurus adalah metode penghitungan penyusutan dengan asumsi fungsi dari waktu, bukan dari fungsi penggunaan. Akibatnya, metode linier atau garis lurus dinilai kurang akurat karena hasil penyusutan aset yang sama antar periode.

Adapun rumus metode ini ialah:

a. Menggunakan nilai residu

Nilai Penyusutan/ Depresiasi = (Harga Perolehan – Nilai Residu) : Usia Ekonomis

Contoh, pengadaan truk untuk operasional antar kirim barang di tanggal 5 Juni 2021 dengan harga Rp500 juta. Diperkirakan truk ini memiliki masa pakai sekitar 5 tahun dengan nilai residu Rp80 juta. Maka nilai penyusutan per tahunnya yaitu:

Nilai Penyusutan/ Depresiasi

= (Rp500.000.000 ― Rp80.000.000) ÷ 5 tahun

= Rp84.000.000

Baca Juga: Bagaimana hitung nilai residu

b. Tanpa nilai residu

Nilai Penyusutan/ Depresiasi = Harga Perolehan : Usia Ekonomis

Jika menggunakan contoh yang sama diatas maka:

Nilai Penyusutan/ Depresiasi

= Rp500.000.000 ÷ 5 tahun

= Rp100.000.000

2. Metode beban menurun

Metode kedua memakai metode beban menurun. Metode ini juga dikenal dengan sebutan depresiasi beban, merupakan metode untuk menghitung biaya penyusutan lebih besar ditahun pertama, kemudian akan semakin mengecil di tahun-tahun berikutnya.

Oleh karena itu, nilai beban penyusutan akan lebih besar dari pada periode awal, tetapi akan menurun pada periode berikutnya.

Untuk menghitungnya dapat menggunakan rumus:

Nilai Penyusutan/ Depresiasi = Harga beli aset x persentase penyusutan

Baca Juga: Contoh menghitung Metode beban menurun

3. Metode aktivitas

Selanjutnya, metode depresiasi yang ketiga yaitu metode aktivitas. Dari metode ini dapat terlihat bahwa cara menghitung depresiasi didasarkan pada adanya pemanfaatan aset.

Dan metode aktivitas ini dapat dihitung dari hasil produktivitas aset.

Rumus pada metode depresiasi aktivitas adalah:

Nilai Penyusutan/ Depresiasi = [(Biaya Perolehan ― Nilai Residu) × Estimasi Usia Penggunaan] : Usia Produktif

Contohnya sebuah mesin untuk produksi dibeli seharga 600 juta memiliki nilai residu 70 juta, dipakai selama 5.000 jam pada tahun pertama dan diperkirakan bahwa secara keseluruhan waktu, mesin produksi ini mempunyai kapasitas untuk bekerja kurang lebih 40.000 jam, maka nilai penyusutannya bisa dihitung dengan cara:

Nilai Penyusutan/ Depresiasi = [(Rp 600 juta – Rp 70 juta) x 5.000] / 40.000 = Rp 66.250.000.

Sayangnya, metode ini mempunyai keterbatasan, disebabkan tidak tepat dipakai saat situasi penyusutan berdasarkan waktu dan bukan dari aktivitas.

Itulah ulasan mendalam kali ini mengenai depresiasi dilihat dari pengertiannya, faktor apa saja yang menentukan suatu depresiasi atau penyusutan serta cara menghitungnya. Simak juga bacaan informatif lainnya dari Rangkul Teman ya.

Baca Juga: Ini Pinjaman dengan Bunga Rendah tanpa Jaminan

Penulis:

News
Butuh informasi mengenai layanan atau event kami?
150210
Senin–Jumat, 09:00–18:00
Berita Terkait

News

Mungkin kamu pernah mendengar atau melihat cek, namun apakah kamu memahami apa itu cek? Ketika […]

News

Di zaman yang sudah modern ini, ada begitu banyak teknologi yang dikembangkan untuk memudahkan kehidupan […]

News

Bagi sebagian orang, istilah rentenir bukanlah hal yang asing lagi. Bahkan di beberapa daerah, profesi […]

News

Kamu mungkin sudah sering mendengar istilah KPR yang berhubungan dengan cara pembelian rumah menggunakan sistem […]

News

Berbicara tentang keuangan, tentunya kamu harus hati-hati dalam menjaga dan memakainya agar tidak merugi. Ada […]

News

Dalam dunia investasi, salah satu istilah yang paling umum digunakan yakni emiten. Apa itu emiten? […]