Cara Perhitungan Pajak Penghasilan (PPH) dan Simulasi Pembayaran

PPh atau Pajak Penghasilan merupakan pajak yang wajib dibayarkan oleh setiap warga negara yang sudah memiliki pendapatan. Tentunya, pajak penghasilan ini sudah diatur dalam undang-undang pajak yang sudah dibuat oleh pemerintah. PPh yang dimaksud ini berupa pendapatan yang kamu dapatkan yang termasuk upah, gaji, honorarium, tunjangan, dan pembayaran lainnya yang berhubungan dengan pekerjaan, jabatan, hingga jasa.

Baca Juga: Apa itu honorarium

Sayangnya, sampai saat ini banyak masyarakat yang sering salah menghitung pajak penghasilan, sehingga tarif yang mereka keluarkan berbeda dari tarif yang sesungguhnya. Biar tidak salah lagi, kali ini kami akan memberikan simulasi perhitungan pajak penghasilan secara detail untuk kamu. Cara hitung PPH yang benar

Menghitung Pajak Penghasilan Bersih Selama Satu Tahun

Penghasilan yang dimaksud ini bukan hanya berasal dari gaji atau upah saja, tetapi termasuk tunjangan-tunjangan lain yang kamu terima saat bekerja. Penghasilan dalam setahun inilah yang kemudian kita sebut dengan penghasilan kotor. Untuk menghitung PPh biasanya kita menghitung pada penghasilan bersih yang kita terima dalam satu tahun. Jadi, sebelum kamu memulai menghitung pajak penghasilan, kamu harus tahu dulu berapa pendapatan bersih yang kamu terima selama satu tahun bekerja.

Apa Itu Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP)?

Menghitung PTKP biasa menggunakan metode dasar menghitung pajak penghasilan (PPh). Metode ini sudah tercantum dalam Pasal 7 UU Pajak Penghasilan No.36 Tahun 2008 daman Peraturan Menteri Keuangan (PMK), PTKP mencakup jumlah pemasukan Wajib Pajak yang tidak dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21. Jika seorang individu tidak memiliki pendapatan yang tidak lebih dari batas PTKP, maka ia tidak akan dibebankan pajak penghasilan. Sebaliknya, jika ia memiliki pendapatan yang melebihi batas PTKP, maka ia wajib membayar pajak penghasilannya sesuai dengan perhitungan hasil neto setahun yang sudah dikurangi PTKP. Kemudian, setelah mengetahui besaran pendapatan, sekarang mari kita membahas cara menghitung penghasilan.

Menghitung Penghasilan Tidak kena Pajak (PTKP)

Besaran tarif PTKP berbeda-beda sesuai dengan pendapatan masing-masing. Namun, dalam aturan terbaru pemerintah sudah menetapkan nilai PTKP untuk Wajib Pajak pribadi sebesar Rp.54.000.000 setahun atau Rp.4.500.000 per bulan. Jadi, dia seorang pekerja memiliki pendapatan dibawah Rp.54.000.000 per tahun, maka ia tidak wajib atau bebas dari pungutan PPh 21. Kemudian, kalian hitung pendapatan tersebut dengan tabel tarif PTKP yang kami ambil dari Peraturan Menteri Keuangan RI No.101/PMK.010/2016: Tarif tabel PTKP Indonesia

Cara dan Contoh Menghitung Pajak Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP)

Supaya kamu lebih mudah memahami cara menghitung PTKP, berikut kami berikan simulasi contoh perhitungan PTKP: Ibu Mina merupakan seorang karyawan dari perusahaan PT. Sungai Mengalir. Ibu Mina belum menikah dan tidak memiliki tanggungan. Gaji pokok Ibu Mina per bulan adalah Rp4.500.000, berapa nilai PPh  Ibu Mina? Selanjutnya, mari kita hitung PTKP dengan cara berikut ini: Gaji per bulan = Rp4.500.000 Gaji per tahun = Rp54.000.000 Simulasi perhitungan: (Gaji setahun – PTKP) = Rp54.000.000 – Rp54.000.000 = Rp. 0 Jadi, Ibu Mina tidak harus membayar PPh 21.

Apa Itu Penghasilan Kena Pajak (PKP)?

Setelah mengetahui apa itu PTKP, sekarang kita masih dalam pembahasan PKP. PKP berbeda dengan PTKP, jika kamu memiliki pendapatan lebih dari Rp.54.000.000 per tahun, maka status Wajib Pajak kamu adalah PKP.

Kategori Penghasilan Kena Pajak (PKP)

Berbeda dengan PTKP, PKP memiliki dua kategori penghasilan yang berbeda, memiliki NPWP dan tidak memiliki NPWP. Berikut rincian tarifnya:

1. Tarif PKP yang memiliki NPWP

  1. Memiliki penghasilan di bawah Rp.50.000 = 5%
  2. Penghasilan rata-rata Rp.50.000.000 – Rp.250.000.000 = 15%
  3. Memiliki penghasilan antara Rp.250.000.000 – Rp.500.000.000 = 25%
  4. Memiliki penghasilan di atas Rp.500.000.000 = 30%

2. Tarif PKP yang tidak memiliki NPWP

  1. Memiliki penghasilan di bawah Rp.50.000.000 = 6%
  2. Rata-rata penghasilan antara Rp.50.000.000 – Rp.250.000.000 = 18%
  3. Memiliki rata-rata penghasilan Rp.250.000.000 – Rp.500.000.000 = 30%
  4. Memiliki penghasilan lebih dari Rp.500.000.000 = 36%

Cara Menghitung Pajak Penghasilan (PPh) untuk Penghasilan Kena Pajak (PKP)

Selanjutnya, mari kita bahas tentang cara menghitung PKP. Berikut contoh kasus menghitung PTP, PPh, dan Pajak penghasilan berdasarkan tabel besaran nilai PTKP diatas dan tarif PKP: Bapak Thomas merupakan seorang karyawan dari perusahaan PT. Sumber Rezeki. Bapak Thomas memiliki NPWP dan sudah menikah dan memiliki seorang anak. Gaji pokok Bapak Thomas per bulan adalah Rp.10.000.000, berapa nilai PPh yang harus dibayar oleh Bapak Thomas? Selanjutnya, kami akan memberitahu cara menghitung PPh: Gaji pokok = Rp.8.000.000 Pengurangan biaya-biaya:

  • Biaya jabatan = 5% x Rp.10.000.000 = Rp.400.000
  • Biaya pensiun = 1% x Rp.10.000.000 = Rp.80.000
  • Total keseluruhan = Rp.480.000

Penghasilan neto = Rp.7.520.000/bulan; Rp.90.240.000/tahun PTKP (K1) = Rp.63.000.000 Penghasilan Kena Pajak = Rp.27.240.000 PPh Terutang = 5%x27.240.000 = Rp.1.362.000 PPh Pasal 21 per bulan = Rp1.362.000/12 = Rp.113.500 Jadi, Bapak Thomas harus membayar PPh 21 sebesar Rp.113.500 per bulan atau Rp1.362.000 / tahun.

Baca Juga: Ini Simpanan dengan Jasa Penyimpanan Mencapai 10% Per-tahun

Kesalahan-Kesalahan Dalam Menghitung Pajak Penghasilan

1. Tidak Memasukkan Biaya Jabatan dan Pensiun

Kesalahan pertama yang sering terjadi adalah tidak memasukkan biaya jabatan dan pensiun.  Biaya jabatan ini adalah hal yang paling umum bagi setiap karyawan. Besaran biaya jabatan ini adalah 5 persen dari pendapatan bruto. Sedangkan iuran pensiun merupakan biaya yang dibayar oleh setiap karyawan ketika mengikuti program pensiun.

Baca Juga: Apa Perbedaan Biaya Jabatan dan Biaya Pensiun?

2. Tidak Mengikuti Cara Hitung Sesuai Ketentuan

Kesalahan kedua adalah, kamu tidak menghitung pajak penghasilan sesuai dengan ketentuan yang sudah di buat. Kesalahan ini sering terjadi, akibatnya nilai pajak yang seharusnya kalian keluarkan akan berbeda dengan nilai yang sebenarnya. Selalu ikuti tarif pajak yang sesuai dengan ketentuan Penghasilan Kena Pajak (PPh Pasal 17.)

3. Salah Memilih Status PTKP dan PKP

Istilah PTKP memang terdengar baru dan asing oleh para Wajib Pajak. Karenanya, beberapa diantara kita selalu salah paham dengan status PTKP. Seperti yang sudah Istilah PTKP memang terdengar baru dan asing oleh para Wajib Pajak. Karenanya, beberapa diantara kita selalu salah paham dengan status PTKP. Seperti yang sudah kami jelaskan, mereka yang memiliki status PTKP adalah mereka yang memiliki penghasilan di bawah Rp.54.000.000 per tahun. Jadi, Tentunya nilai besaran yang ada dalam PTKP akan berbeda dengan PKP, sehingga cara menghitung nilai pajak pastinya akan berbeda. Sudah Paham Cara Menghitung Pajak Penghasilan? Setelah membaca artikel ini, jangan sampai salah menghitung lagi, ya. Jika kalian masih belum paham mengenai hitungan pajak penghasilan, kamu bisa berkonsultasi secara langsung ke HRD kantor kamu atau cari tahu lebih lanjut mengenai pajak disini.

Penulis:

News
Butuh informasi mengenai layanan atau event kami?
150210
Senin–Jumat, 09:00–18:00
Berita Terkait

News

Di Indonesia, badan usaha ada bermacam-macam jenisnya. Salah satunya yang masih bertahan adalah koperasi. Mohammad […]

News

Pada jaman sekarang semakin banyak orang yang tertarik untuk menggunakan deposito. Namun tahukah kalian apa […]

News

Dalam dunia bisnis, terjadinya persaingan adalah salah satu hal yang semakin ketat dan meningkat secara […]

News

Menjadi warga Negara yang baik berarti selalu menuruti peraturan-peraturan yang ada pada Negara tempat dimana […]

News

Warga Indonesia yang memenuhi syarat wajib pajak memiliki kewajiban untuk lapor pajak. Dalam Ketentuan Umum […]

News

Dalam bekerja terdapat surat perjanjian kerja yang harus ditandatangani oleh karyawan saat proses penerimaan. Untuk […]