Apa itu Pajak Progresif, Tarif, Jenis, dan Contohnya

Terdapat beberapa jenis pajak yang ada di Indonesia, salah satunya yaitu pajak progresif. Pada prakteknya, pajak progresif terbagi atas dua macam, yaitu PPh (21) atau Pajak Penghasilan dan PKB atau Pajak Kendaraan Bermotor. Apa itu Pajak Progresif

Apa Itu Pajak Progresif

Pajak progresif menerapkan tarif pungutan dimana persentase didasarkan pada kuantitas atau jumlah dari objek pajak serta menyesuaikan harga atau nilai dari objek pajak tersebut, sehingga mengakibatkan tarif pajak akan meningkat ketika jumlahnya bertambah.

Baca Juga: Pajak adalah: Pengertian, Fungsi, dan Jenis-Jenisnya

Pengertian dan Ketentuan Pajak Progresif PPh 21

PPh 21 adalah pajak pemotongan yang nantinya akan berlaku pada penghasilan dari WPOP atau Wajib Pajak Orang Pribadi dalam negeri. Disetorkan setiap bulannya dan paling lambat tanggal 10 pada bulan berikutnya. Sedangkan pelaporannya paling lambat tanggal 20 bulan berikutnya. Secara umum PPh 21 berhubungan dengan pajak di mana seseorang akan mendapatkan pemotongan pada sistem penggajiannya. Akan tetapi, sebenarnya PPh 21 berlaku untuk beberapa jenis penghasilan yang lainya seperti berikut:

  • Penghasilan untuk Pegawai Tetap, baik dalam bentuk penghasilan yang sifatnya teratur maupun tidak.
  • Penghasilan untuk Penerima Pensiun, baik dalam bentuk uang pensiunan maupun penghasilan serupa.
  • Korban yang mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) maupun pensiunan yang dia terima sekaligus. Hal ini bisa berupa tunjangan atau jaminan hari tua, pesangon, uang manfaat pensiun, serta pembayaran yang lainnya dan sifatnya masih sejenis.
  • Penghasilan Pegawai Tidak Tetap maupun Tenaga Kerja Lepas. Ketentuan ini berlaku untuk yang menerima upah satuan, upah borongan, upah harian, mingguan, sampai dengan upah bulanan
  • Penghasilan bagi seseorang yang Bukan Pegawai, ini bisa berkaitan dengan upah, honorarium, komisi, serta imbalan yang serupa.
  • Imbalan pada para peserta kegiatan, bisa berupa uang saku. Selain itu, dapat juga berupa hadiah, honorarium, uang rapat, uang representasi, maupun penghargaan sejenis

Baca Juga: Cara Perhitungan Pajak Penghasilan (PPH) dan Simulasi Pembayaran Dana pensiun adalah: Pengertian, Fungsi, Jenis dan Perhitungannya

Tarif Progresif untuk PPh 21

Sebelum membahas tarif PPH 21, kamu perlu mengetahui apa itu PTKP atau Penghasilan Tidak Kena Pajak. PTKP nantinya akan dikurangi dari total penghasilan kamu selama 1 tahun sebelum dikali dengan tarif pajak PPH 21. Tarif dasar PTKP adalah Rp 54.000.000 bagi wajib pajak tidak menikah. Jumlahnya akan bertambah sebesar Rp 4.500.000 per tanggungan. Misalnya, jika kamu sudah berstatus menikah atau mempunyai anak. Maka akan bertambah Rp 4.500.000 per kepala dengan maksimal 3 tanggungan untuk anak. Jadi, jika kamu memiliki 4 orang anak, maka yang masuk dalam hitungan PTKP hanyalah 3 orang anak ditambah 1 istri. Berdasarkan Pasal 17 Ayat 1, untuk perhitungan terkait tarif PPh menerapkan tarif progresif. Nanti persentase pengenaan PPh 21 WPOP akan masuk ke dalam kategori dengan menyesuaikan jumlah penghasilan setiap tahunnya. Sementara itu, terkait kelompok tarif pajak tersebut, yaitu:

  • Wajib Pajak yang memiliki penghasilan tahunan mencapai Rp 50.000.000 yaitu 5%.
  • Wajib Pajak yang memiliki penghasilan tahunan sebesar Rp 50.000.000 sampai Rp 250.000.000 maka tarifnya adalah 15%.
  • Untuk Wajib Pajak yang mempunyai penghasilan tahunan di angka Rp 250.000.000 sampai dengan Rp 500.000.000, tarifnya sebesar 25%.
  • Bagi Wajib Pajak yang memiliki penghasilan tahunan lebih dari Rp 500.000.000, maka tarifnya sebesar 30%.
  • Adapun bagi Wajib Pajak yang tidak mempunyai NPWP, maka nanti akan berlaku tarif sebesar 20% lebih tinggi dari pada tarif untuk Wajib Pajak yang mempunyai NPWP. Jadi, jumlah PPh 21 nanti akan dipotong sebesar 120% dari total yang semestinya dipotong.

Pengertian dan Ketentuan Pajak Progresif PKB

PKB merupakan pajak yang berlaku untuk kepemilikan kendaraan bermotor, baik jumlahnya satu maupun lebih. Kendaraan yang menjadi objek pajak tersebut harus memiliki jenis yang sama serta memakai nama pribadi maupun keluarga pada alamat yang sama. Biaya pajak yang dibebankan juga cenderung berbeda antara kendaraan yang pertama, kedua, dan seterusnya. Karena akan meningkat bersamaan dengan bertambahnya jumlah kendaraan kamu. Pajak ini disetorkan setiap 1 tahun sekali dan paling lambat wajib kamu setor sebelum waktu jatuh tempo yang tertera di STNK kendaraan bermotor kamu.

Tarif Progresif untuk PKB

Mengacu pada Peraturan Daerah tentang tarif pajak progresif untuk kendaraan dalam UU No.8 Tahun 2009, pada pasal 6, berikut tarif PKB:

  • Khusus tarif kepemilikan kendaraan pertama, nilai terendah mencapai 1% dan tertinggi 2%.
  • Tarif kepemilikan kendaraan kedua, paling rendah 2,5%.
  • Tarif atas kepemilikan kendaraan bermotor ketiga dan seterusnya 0,5% lebih tinggi untuk setiap kendaraan dan tarifnya tertingginya adalah 10%.

Daftar tarif di atas berlaku untuk motor maupun mobil. Tetapi tidak berlaku untuk kendaraan bermotor milik Polri dan TNI. Selain itu, PKB juga tidak berlaku untuk ambulans, angkutan umum, mobil pemadam kebakaran, mobil jenazah, lembaga keagamaan, sosial, pemerintah pusat, serta daerah.

Cara Menghitung Pajak Progresif

Bagaimana cara menghitung pajak progresif secara benar? Berikut ini kami akan memberikan ilustrasi tentang bagaimana cara menghitungnya. Sehingga, kamu bisa memperkirakan berapa total pajak yang harus kamu keluarkan.

1. Cara Menghitung Pajak Kendaraan Bermotor

Misalnya, kamu mempunyai 2 mobil yang mereknya sama dengan harga sama, yakni Rp 100.000.000. Mobil tersebut kamu beli pada tahun yang sama di DKI Jakarta. Tertulis pada PKB yang ada di STNK nilainya Rp 2.000.000. Kemudian, untuk SWDKLLJ sebesar Rp 153.000. Jadi untuk mengetahui NJKB atau Nilai Jual Kendaraan Bermotor, yaitu: NJKB=(PKB/2)x100= (Rp 2.000.000 : 2)x100= Rp 100.000.000. Kemudian, untuk pajak progresif dari mobil yang harus kamu bayarkan, yaitu: Mobil pertama:

  • PKB= Rp 100.000.000×2%= Rp 2.000.000
  • SWDKLLJ = Rp 153.000
  • Maka pajaknya= Rp 2.000.000+Rp 153.000= Rp 2.153.000.

Pada mobil kedua berlaku:

  • PKB= Rp 100.000.000×2,5%= Rp 2.500.000
  • SWDKLLJ= Rp 153.000
  • Maka pajaknya= Rp 2.500.000+Rp 153.000= Rp 2.653.000.

Baca Juga: Apa Itu SWDKLLJ Pada STNK

2. Menghitung Pajak Progresif untuk Penghasilan

Bagaimana cara untuk menghitung pajak progresif terkait penghasilan? Berikut ini adalah informasi tentang cara menghitungnya: Pak Andika mempunyai penghasilan tahunan Rp 150.000.000. Beliau berstatus menikah serta mempunyai satu tanggungan. Maka besaran Pajak Penghasilan yang harus Pak Andika bayarkan, yaitu:

  • PTKP Pak Andika (menikah dan memiliki 1 tanggungan) = Rp 58.500.000 + Rp 4.500.000 = Rp 63.000.000.
  • Penghasilan Kena Pajak (penghasilan bruto – PTKP) = Rp  150.000.000 – Rp 63.000.000 = Rp 87.000.000.
  • Total Pajak Penghasilan Pasal 21 yang menjadi tanggungan = (Rp 50.000.000 x 5%) + (Rp 37.000.000 x 15%) = Rp 2.500.000 + Rp 5.550.000 = Rp 8.050.000 per tahun.
  • PPh 21 untuk per bulan berarti = Rp  8.0550.000 : 12 = Rp 670.833.

Baca Juga: Ini Simpanan dengan Jasa Penyimpanan Mencapai 10% Per-tahun

Sudah Paham dengan Pajak Progresif? Sekian pembahasan tentang apa itu pajak progresif, contoh, tarif, dan beberapa informasi terkait. Sekarang kamu perlu menyelesaikan apa yang menjadi tanggunganmu sebelum jatuh tempo. Tujuannya untuk menghindari denda. Semoga bermanfaat.

Penulis:

News
Butuh informasi mengenai layanan atau event kami?
021 50928823
Senin–Jumat, 09:00–18:00
Berita Terkait

News

Bagi yang ingin mulai berinvestasi, sekuritas merupakan sebuah elemen penting agar kegiatan penanaman modal yang […]

News

Membuat laporan memang sudah menjadi sebuah keharusan bagi perusahaan besar atau pelaku usaha. Kamu yang […]

News

Dalam setiap aktivitas jual beli, uang kartal menjadi alat transaksi pembayaran yang sangat mudah penggunaannya […]

News

Akuntabilitas merupakan sebuah pertanggungjawaban organisasi atas tindakan, produk, keputusan, dan kebijakan pada administrasinya. Arti akuntabilitas […]

News

Jika kamu sedang mengembangkan sebuah bisnis, omset menjadi hal yang perlu kamu perhitungkan secara detail […]

News

Bagi kamu yang menjadi pebisnis dan ingin mengembangkan perusahaannya di masa depan, ekspansi bisnis merupakan […]